Gerak bibir ku membisu Kelana jiwa seperti bajak yang terus melaju Membelah sunyi Menerobos penghalang perjalanan Kusapa bintang Sebelum mata terpejam Sambut bunga impian Selalu Datang dalam kerinduan senja Dalam sinar kehangatan Berikan damai bagi kepenatan Hatiku Jiwaku Hingga kesal

Bayangan senja Yang membekapku dalam gelap Melantunkan syair-syair kerinduan Pada kekasih Pada belahan jiwa yang telah pergi Ia di sana Membelakangi bukit yang kebiruan Mencoba merangkai langkah Menemukan asa yang masih melekat Pada kerlipan bintang Sejenak Terdiam Beku dalam penantian

kiamat itu sederhana tak perlu menanti goncangan dunia tak perlu menanti tsunami yang tertumpah tak perlu menanti bumi yang terbelah badai dan seribu topan hanya peringatan masihkah percaya bahwa semua ada akhirnya kiamat itu sederhana detak jantung tak berdetak aliran

Tetesan peluh tak pernah dirasa mengalir bagai sungai yang membelah kaki melangkah hampir terbujur rapuh hanya kepingan logam yang diharap dari bergunung-gunung tumpukan emas ibu kota senyum terpancar tatkala uang telah dirasa cukup cukup untuk membeli beberapa butir beras cukup

Menatap rembulan yang mulai meninggi pancarkan keagungan pada kegelapan Aliran nafas masih terasa Derunya Coba bangkitkan harap Kisah iniā€¦.. Perjalanan batin bagi jiwa yang sepi Diam Terpaku Meski menyisakan senyum Bermimpi Berharap mahadewi dating berlutut

  Dalam gegap gempita yang menyemarak Setitik kebisuan Tak sirna Meski menyatu berbaur Panji-panji kegembiraan Diusung Mengatasnamakan jiwa yang terbebas Tapi tak lengkap Masih ada Hati yang terhimpit Sakit Tak kuasa bergerak Terombang-ambing Mencari satu tonggak pegangan Kelas Tallo, 3

Sadar datang ketika badan tak kuat lagi bergerak Mencekik botol membanting kartu mengumpat-ngumpat Merendahkan orang yang ingin menolong Mengangkat dari Lumpur dosa Melumuri seluruh tubuh Sadar datang ketika nafas tersangkut ditenggorokan Terasa bagai seribu tusukan pedang Menusuk mengoyak mencabik-cabik Sadar